Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Firasatku

“Firasatku” (Nurul Ikhwani P.) Dering telepon genggam membangunkanku dari lelapnya tidur. Aku melihat angka-angka berbaris rapi di layar. Nomornya asing. Namun aku tetap mengangkatnya. Ya, sebuah kabar pun aku terima dari nomor tersebut. Dan lebih tepatnya lagi, yang aku terima adalah kabar buruk dari sahabatku sendiri. Mungkin ini sore tragis yang pernah aku alami selama ini. Rasanya baru kemarin aku bermain dan bercengkrama sembari menikmati teh hangat di rumahnya. Namun kini sosok sahabat yang aku sayangi, telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. . . . . . Aku, Irvi, Wati dan Novi adalah empat gadis yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Bisa disebut pula sebagai sahabat seperjuangan. Karena kami berjuang bersama dalam menuntut ilmu dari taman kanak-kanak hingga bangku sekolah menengah pertama. Walaupun pada akhirnya kami terpisah di jenjang menengah atas dan di bangku perkuliahan. Tetapi hal itu tidak menyurutkan komitmen kita dalam menjalin sebuah persahabatan. ...

Kemanakah Bintang?

Kemanakah Bintang? (Nurul Ikhwani P.) Kunang-kunang mulai berterbangan Kesana kemari hinggapi rerumputan Bukan rindu yang aku tunggu Tapi bintang yang kini enggan muncul Kemana sosokmu? Sosok yang slalu menerangi kegelapan kami Sosok yang begitu ceria menampakkan cahayanya Sosok yang tanpa malu menunjukkan kehebatannya Bintang... Engkaulah penyemangat kami Engkau pahlawan terbaik kami Engkaulah sahabat pendengar segala curahan hati kami Bintang... Muncullah esok hari dengan senyum ceriamu Dengan cahaya yang slalu bersinar di langit Dan kami akan menyambutmu dengan suka cita Dan takkan membiarkanmu pergi Pergi meninggalkan kami Kami sang pemimpi.

Bidadariku

Bidadariku (Nurul Ikhwani P.) Dalam hening aku memikirkanmu Dalam bayang aku memelukmu Dalam indra aku memandangmu Dalam tangis aku merindumu Tuhan... Jagalah jiwa dan raganya Jiwa yang telah membimbingku Dengan segala keikhlasannya Dan tanpanya aku seperti robot yang bergerak tanpa tujuan Ibu pahlawan dalam hidupku Cinta dan kasihnya tiada batas Menerjang segala rintangan Menerkam segala keluhan Mengandalkan sebuah keberanian Ibuku bidadari tak bersayap Memberi petunjuk disaat hidup mulai gelap Dalam lantunan doa aku menyebutnya Dan tanpa lelah aku menyambut senyumnya.