Firasatku

“Firasatku”
(Nurul Ikhwani P.)

Dering telepon genggam membangunkanku dari lelapnya tidur. Aku melihat angka-angka berbaris rapi di layar. Nomornya asing. Namun aku tetap mengangkatnya. Ya, sebuah kabar pun aku terima dari nomor tersebut. Dan lebih tepatnya lagi, yang aku terima adalah kabar buruk dari sahabatku sendiri.
Mungkin ini sore tragis yang pernah aku alami selama ini. Rasanya baru kemarin aku bermain dan bercengkrama sembari menikmati teh hangat di rumahnya. Namun kini sosok sahabat yang aku sayangi, telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.

. . . . .

Aku, Irvi, Wati dan Novi adalah empat gadis yang selalu bersama dalam suka maupun duka. Bisa disebut pula sebagai sahabat seperjuangan. Karena kami berjuang bersama dalam menuntut ilmu dari taman kanak-kanak hingga bangku sekolah menengah pertama. Walaupun pada akhirnya kami terpisah di jenjang menengah atas dan di bangku perkuliahan. Tetapi hal itu tidak menyurutkan komitmen kita dalam menjalin sebuah persahabatan.
Aku ingat betul pertama kali kami bertemu. Saat itu kami masih berumur lima tahun. Dan kami dipertemukan disebuah taman kanak-kanak yang terletak tidak jauh dari desa kami.
Aku     : “Hai, namaku Neli. Nama kalian siapa?” (Dengan wajah lugunya)
Irvi     : “Namaku Irvi...” (Sembari mengulurkan tangan untuk berkenalan)
Wati    : “Dan namaku Wati...” (Sambil memperlihatkan senyum manisnya)
Novi    : “Kalau aku Novi...”
Aku    :“Hehehe.. Senang deh bisa kenalan sama kalian.
Oh iya, aku punya coklat batang nih. Kalian mau?
Wati     : “Wah... Aku mau.”
Irvi    : “Eh teman-teman, kita makan coklatnya di bawah pohon mangga aja yuk.”
Novi    : “Ayo ayooookkk....”
Aku    : “Laaarrriiiiiii.............”
Begitulah sekiranya keakraban kami. Berawal dari manisnya coklat dan hangatnya kebersamaan. Dari sanalah satu per satu dari kami mulai menampakkan kelucuannya.
Persahabatan kami memang sangat erat. Sampai-sampai jika ada satu yang sakit diantara kami, pasti akan merasakan sakit semua tanpa terkecuali. Ya, mungkin karena kami sangkin begitu dekatnya. Keluarga kami juga saling mengenal satu sama lain. Hingga mereka paham benar apa yang sering kami lakukan jika di luar rumah.

. . . . .

Hari demi hari kami lewati bersama. Sampai kini tiba waktunya dimana kami menginjak bangku kelas  satu SMP. Masa dimana cerita-cerita indah mulai terangkai. Dan ini adalah awal bagi kami untuk mengubah sifat kekanak-kanakan yang kami bawa sejak kecil. Aku dan teman-teman berharap, agar kami dapat tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

. . . . .

Siang itu terasa begitu panas. Namun semangat kami tidak kalah membara dengan teriknya matahari di siang ini. Aku dan teman-teman bergegas pulang meninggalkan halaman sekolah. Selalu ada yang menarik dalam perjalanan kami. Pepohonan dan rerumputan menari asik mengikuti alunan angin.
Jarak rumah kami dengan sekolah memang cukup jauh. Oleh karena itu, kami selalu menggunakan kendaraan umum untuk pulang pergi ke sekolah. Sesampai di gerbang desa, kami turun serentak dari angkutan umum. Dan kami kembali menikmati indahnya perjalanan menuju rumah. Suara kicauan burung juga menemani langkah kami. Hingga kami saling memasuki rumah masing-masing untuk beristirahat dan menikmati waktu luang.

. . . . .

Suatu hari, aku dan teman-teman  mengadakan touring bersama. Mungkin ini adalah salah satu cara kami menghilangkan kepenatan setelah belakangan ini banyak kegiatan di sekolah. Tetapi ada yang berbeda di hari itu. Irvi tidak ikut dalam rombongan touring. Ya, karena Irvi adalah salah satu cewek yang tidak suka dengan keramaian. Dan Ia juga sangat mengasingkan diri dari seorang laki-laki. Untuk sekadar berboncengan saja Ia selalu tidak mau, apalagi mengajaknya untuk touring. Pasti Ia akan melontarkan kalimat penolakan secara keras.
Petualangan pagi itu terasa sangat asik dan mengesankan. Objek wisata yang kami kunjungi pun tidak kalah menarik. Kebun teh dan perkebunan buah-buahan di daerah Moga menjadi objek wisata pilihan kami di pagi itu. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan sekadar berfoto ria di sekitar objek wisata. Aku dan teman-teman pun tak kalah saing. Tidak hanya berfoto, kami juga menikmati petualangan pagi itu dengan makan bersama di dekat area kebun teh. Dan kami sengaja membawa bekal makanan dari rumah. Sehingga kami tidak perlu mengahabiskan uang banyak di sana. Cukup dengan menggelar tikar, kami bisa menikmati kebersamaan yang luar biasa hikmatnya.
Petualangan kami berlangsung cukup lama, yaitu sekitar tujuh jam. Tepat sore hari, cuaca di sana sangat mendung. Itulah yang menjadi alasan kami untuk segera mengakhiri petualangan hari itu. Kerena aku dan teman-teman takut tejebak hujan di tengah jalan. Ternyata firasat itu benar. Sampai di tengah perjalanan, kami terjebak hujan. Dan yang lebih mengenaskan, motor yang ditumpangi salah satu temanku mengalami kerusakan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di tengah perjalanan tersebut. Setelah satu jam menunggu, kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan yang gelap dan beberapa asap kendaraan menemani perjalanan kami malam itu. Hingga tepat pukul 10 malam, kami tiba di desa tercinta.

. . . . .

Tiga tahun aku menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabatku di bangku SMP. Dan kini tibalah kami di masa yang sangat menguji kesabaran dan usaha keras. Ya, babak penentu di mana kami sanggup atau tidak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ujian Nasional sudah di depan mata. Momok yang dulu dianggap sangat menakutkan itu berhasil membuat semangat belajar kami melonjak. Namun hal itu justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Tito. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil memotivasi untuk berusaha dalam mendapat nilai terbaik di Ujian Nasional nanti. Melihat temannya terpuruk seperti itu, Irvi tidak tega membiarkannya dalam keadaan yang sangat miris. Kemudian dengan segala tindakan dan jurus jitunya, Irvi berhasil memotivasi Tito untuk fokus dalam Ujian Nasional yang tidak lama lagi segera berlangsung. Memang Irvi terkenal sebagai sosok penyemangat atau sebagai sang motivator di kalangan teman-teman serta guru-gurunya. Maka tak heran jika Ia dijuluki sebagai guru masa depan. Karena itu juga merupakan cita-cita yang diidam-idamkannya.

. . . . .

Pada tahun 2010,  aku dan sahabat-sahabatku terpaksa untuk berpisah dengan jalannya masing-masing. Kami memilih untuk bersekolah sesuai dengan minat dan bakat yang kami miliki selama ini. Ada yang mengambil kejuruan, dan ada pula yang fokus dengan menengah atasnya. Namun perpisahan itu tidak membuat kami menjadi jauh. Justru dengan perpisahan itu, semakin membuat erat tali persahabatan yang  kami bangun sejak dulu. Karena kami selalu mengingat-ingat momen manis atau kenangan bersama yang membuat kami menjadi bersemangat untuk berkumpul kembali, meskipun dalam waktu yang tidak lama. Tetapi setidaknya dengan pertemuan itu sudah mampu mengobati rasa kangen yang kami yang tertahan.

. . . . .

Suatu hari, aku, Irvi, Wati dan Novi berencana untuk pergi bersama menikmati waktu luang di hari Minggu. Kami ingin melewati weekend dengan berkunjung ke pantai alam indah yang terletak di kota. Karena pantai di sana sangat cocok untuk meluapkan segala curahan hati kami. Selain memiliki pemandangan yang cukup menarik, udara di pantai tersebut juga sangat sejuk. Namun keinginan kami hilang seiring dengan derasnya hujan yang mengguyur desa kami di pagi itu. Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati weekend dengan bermain ke rumah Novi untuk sekadar bercengkrama sembari melepas rindu setelah tiga pekan tidak saling bertemu.
Di tengah-tengah perbincangan, ada selalu yang membuat kami tertawa. Apalagi kalau bukan tingkah konyol Wati.
Aku     : “Ceritain masa-masa awal ospek SMA kalian dong.”
Novi    : “Ospek di tempatku sih asik-asik aja. Meskipun di akhir acara sempat kacau gara-gara hujan turun. Ya kayak sekarang ini lah. Hujannya gak reda-reda.”
Irvi     : “Di tempatku juga asik. Tapi ya gitu. Kakak kelasnya banyak yang serem-serem hehe...”
Wati    : “Aku juga ngrasa enak-enak aja sih pas ospek kemarin. Eh tapi ada yang gak enak. Masa waktu hari kedua ospek, aku kena hukuman bareng temen-temen kelas. Dan kalian tau gak hukumannya apa?”
Novi     : “Apa emang ti?”
Wati     : “Masa aku sama temen-temen disuruh bentuk kelompok, yang jomblo gabung sama yang jomblo, dan yang udah punya pacar bikin gerombolan sendiri. Kan di situ ketahuan kalo aku masih jomblo....(sambil menampakkan wajah manyunnya)
Serentak Aku, Irvi dan Novi tertawa terbahak-bahak..
Aku    : “Ada-ada saja itu kakak kelasmu. Hahahaaa...
Tapi seengganya mereka tahu lah kalau wajah-wajah seperti kamu itu sulit menemukan pendamping hidup ti... (sambil tertawa lancang)
Wati    : “Ih kamu mah jahat banget Nel....”
Jangan salahkan aku yang gatau apa-apa dong. Salahin tuh mantan-mantanku yang pergi gitu aja ninggalin aku.
Irvi    : “Hahaha wati wati... kamu itu ada-ada saja.
Kalau mantan-mantanmu pergi ninggalin kamu gitu aja, pasti ada sesuatu yang bikin mereka tidak suka. Atau jangan-jangan mereka punya tambatan hati yang lain hehehe..
Lagian kamu juga mau ditinggalin gitu aja..”
Wati     : “Aaahhhh sudahlah jangan bahas masa lalu. Nanti aku gak bisa move on gimana?
Aku    : “Hahahaa iyaiya.. kita selalu dukung kamu buat move on dari masa lalumu kok”

. . . . .

Waktu memang berjalan begitu cepat. Tak terasa aku dan sahabat-sahabatku telah mengantongi ijazah sekolah menengah atas. Itu berarti bahwa kami sudah beranjak dewasa. Dan kami telah mengenal dunia luar. Tanpa terkecuali dunia percintaan. Ya, seperti layaknya seseorang yang telah dewasa, disamping menata masa depan, kami juga mulai mengenal seorang lelaki yang pantas untuk menjadi panutan dalam hidup kami.
Namun satu diantara kami ada yang memiliki kisah cinta yang cukup tragis. Ya, Irvi sahabat terdekatku yang akhir-akhir ini sedang dekat dengan seorang lelaki. Awalnya dia enggan untuk menjalain hubungan dengan seorang cowok. Jangankan untuk pacaran seperti remaja umumnya, untuk sekadar dekat dengan cowok pun Dia enggan melakukannya. Di usia yang menginjak 19 tahun, baru ada satu cowok yang berhasil meluluhkan hatinya. Dan Ia pun menyukai si cowok dengan tulus. Namun sang ibu tidak mengizinkan hubungan mereka berdua. Ya, mungkin karena ada sesuatu hal yang membuat si ibu tidak suka dengan hubungan mereka. Tetapi Irvi dan pacarnya tetap menjalin hubungan secara diam-diam dibelakang ibunya.

. . . . .

Suatu hari, Aku terbangun dari lelapnya tidur. Padahal jam di kamarku baru menunjukkan pukul dua dini hari. Aku merasa ada yang aneh di mimpiku. Dan keanehan itulah yang membangunkanku dari tidur. Aku percaya, bahwa mimpi itu hanya sekadar bunga tidur. Tapi mimpi di malam itu sangat tidak logis dalam pikiran. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam mimpiku. Dan aku mempunyai firasat buruk yang akan terjadi.
Ya, malam itu aku mimpi bertemu Irvi. Dalam mimpi tersebut, aku dan dia sedang mengantri tiket di stasiun dimana aku tinggal. Lama mengantri di loket, tiba-tiba Irvi meninggalkanku begitu saja. Padahal aku sendiri belum mendapatkan tiket. Sedangkan dia sudah masuk dalam kereta yang waktu itu akan kita tumpangi bersama. Yang lebih anehnya lagi, di dalam kereta tersebut dia hanya tersenyum manis menghadapku. Tanpa ada rasa aneh dalam dirinya.
Entah apa yang aku rasakan malam itu, aku benar-benar ingin meneteskan air mata. Dan semenjak mimpi itu muncul, aku seringkali mengalami hal-hal aneh lainnya. Seperti mencium aroma bunga melati, hingga mendengar suara sosok perempuan memanggil namaku. Tapi aku tetap berpikir positif. Mungkin itu hanyalah sekadar ilusiku yang belakangan ini memang sering melamun.

. . . . .

Minggu terakhir di bulan Oktober, aku tengah sibuk dengan rutinitasku sebagai seorang mahasiswi. Hingga aku merasa benar-benar capek dan rasanya ingin tidur seharian. Tapi apa daya, aku hanya bisa beristirahat sampai sore hari, karena malam itu aku harus menyelesaikan tugas perkuliahan yang masih terbengkalai. Dan hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku tebangun dari tidur singkatku sore itu. Namun kali ini ada yang berbeda, aku tebangun karena mendengar dering telepon genggamku berbunyi. Dan aku shock ketika mengangkat telepon kala itu. Ya, aku mendapat kabar buruk dari sahabatku Novi dan Wati. Mereka mengabarkan kalau Irvi mengalami kecelakaan. Dan nyawanya tak dapat terselamatkan.

-tamat-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memahami Teks Deskripsi untuk Kelas 7

UJI KOMPETENSI TEKS TANGGAPAN KELAS 9